rss

mutiarafr.blogspot.com

Selasa, 01 Maret 2011

KHOTBAH RASULULLAH MENGENAI ITTIBAA’

Uqbah bin Amir Al-Juhani meriwayatkan bahwa Nabi mengucapkan hamdallah lalu bersabda, “Amma Ba’du. Sesunggunhya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah. Ikatan yang paling erat adalah kalimat takwa. Millah paling baik adalah millah Ibrahim. Sunnah yang paling baik adalah Sunnah Muhammad. Ucapan yang paling mulia adalah zikir kepada Allah. Kisah yang paling baik Al-Qur’an ini. Pekerjaan yang paling adalah yang fardhu dan yang paling buruk adalah yang diperbaharui. Petunjuk yang paling baik adalah petunjuk para Nabi. Mati yang paling mulia adalah matinya para syuhada. Buta yang paling hebat adalah kesesatan setelah mendapat hidayah. Ilmu yang paling baik adalah yang membawa manfaat dan hidayah yang paling baik adalah yang diikuti. Kebutaan yang paling buruk adalah butanya hati. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Yang sedikit dan mendukupi lebih baik daripada yang banyak namun membuat lalai. Permintaan maaf yang paling buruk adalah ketika diucapkan saat mati menjemput. Penyesalan yang paling buruk adalah penyesalan pada hari Kiamat.
Di antara manusia ada orang yang tidak mengerjakan shalat kecuali setelah waktunya lewat. Di antara mereka ada pula yang tidak mengingat Allah kecuali dengan hati yang kering dan tanpa ikhlas. Kesalahan paling berat adalah lidah yang pendusta. Kekayaan yang paling baik adalah kaya hati. Bekal yang paling baik adalah takwa. Inti kebijaksanaan adalah takut kepada Allah. Perasaan terbaik yang tertanam dalam hati adalah yakin. Dan keragu – raguan termasuk kekafiran. Niyayah termasuk budaya jahiliyah. Orang yang mengorupsi (gulul) harta rampasan perang termasuk penghuni neraka jahannam. Harta yang ditimbun dan tidak dizakati menjadi setrika api bagi pemiliknya. Syair termasuk salah satu seruling iblis. Arak adalah kumpulan dosa. Kaum wanita adalah perangkap setan. Pemuda adalah cabang kegilaan. Pendapatan paling buruk adalah dari riba. Makanan paling buruk adalah memakan harta anak yatim.
Orang yang bahagia adalah orang yang menagmbil pelajaran dari orang lain. Orang yang sengsara adalah yang sengsara di dalam perut ibunya. Kalian pasti akan berakhir di tempat kuburan yang luasnya hanya empat depa. Segalanya dilihat di akhirnya dan inti amal adalah amal penutup (menjelang wafat). Penyebar berita yang paling buruk adalah penyebar kebohongan. Segala hal yang akan dating adalah dekat. Celaan terhadap seorang mukmin adalah kefasikan, memerangi seorang mukmin tergolong kekafiran, dan memakan dagingnya (menggunjingnya) termasuk maksiat kepada Allah. Haramnya hartanya seperti haramnya darahnya. Orang yang banyak bersumpah atas nama Allah pasti akan mendustai-Nya. (tidak memenuhi sumpahnya).
Barangsiapa mengampuni, Allah akan mengampuni. Barangsiapa member maaf, maka Allah akan memberinya maaf. Barangsiapa menahan amarahnya, maka Allah akan memberinya pahala. Barangsiapa yang bersabar atas musibah, maka Allah akan memberinya ganti. Barangsiapa riya, Allah akan menunjukkan belangnyadi hadapan manusia bahwa ia tidak ikhlas. Barangsiapa yang bersabar maka Allah akan melipatgandakan ganjarannya. Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah, maka Dia akan mengazabnya. Ya Allah, ampunilah aku dan umatku. Ya Allah, ampunilah aku dan umatku. Aku meminta ampunan kepada Allah untuk diriku dan diri kalian.” (HR. Al-Baihaqi)
Sebagaiman yang kit abaca, dalam khotbah di atas, Rasulullah memberikan kita pengarahan langsung akan hal yang terbaik bagi kita dalam urusan dunia dan akhirat melalui petuah – petuah yang berguna. Intinya, seorang hamba yang baik adalah hamba yang konsisten dan terikat dengan perintah – perintah Allah seperti yang tercantum dalam kitab-Nya dan terungkap melalui lisan rasul-Nya. Demikian pula dengan larangan – larangan yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika sudah begitu ia menjdai hamba yang taat kepada Allah dan rasul-Nya. Dan itulah keberuntungsn terbesar seperti diisyaratkan oleh firman-nya,
“…Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab : 71)
Dengan begitu, ia termasuk orang – orang yang dikaruniai nikmat dari Allah sebagaimana juga disinggung dalam firman-Nya,
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama – sama dengan orang – orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi – nabi, para shiddiiqiin, orang – orang yang mati syahid, dan orang – orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik – baiknya.” (An-Nisaa’ : 69)
Cukuplah baginya bahwa ia akan menjadi ahli ittibaa’ (yang mengenai sunnah) dan bukan ahlli bid’ah karena seluruh kebaikan terletak dalam ittibaa’, dan seluruh keburukan  terletak pada bid’ah.

*Syekh Thaha Al-Afifi

KHOTBAH RASULULLAH MENGENAI PERINGATAN UNTUK MENJAUHI DUNIA

Rasulullah berkothbah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji – pujian kepada Allah, beliau bersabda, “Wahai umat manusia, negeri dunia ini adalah negeri yang bengko, bukan negeri yang lurus.Dunia adalah tempat kesusahan, bukan tempat kesenangan. Barangsiapa mengetahuinya, maka ia tidak gembira dengan kelapangan yang dimilikinya atau bersedih karena kesengsaraan yang dialaminya. Ketahuilah bahwa Allah menciptakan dunia sebagai negeri tempat ujian dan akhirat sebagai tempat kembali. Allah menjadikan pahala akhirat sebagai kompensasi ujian dunia. Allah mengambil untuk memberi, menguji untuk member ganjaran.
Dunia itu cepat pergi, segera berubah. Oleh karena itu, waspadalah terhadap keenakan menyusu kepadanya untuk antisipasi pahitnya bersapih. Waspadalah terhadap kenikmatannya yang sekarang untuk antisipasi tidak enaknya yang akan dating. Jangan bersusah payah memakmurkan negeri yang telah Allah pastikan akan hancur. Dan jangan meneruskannya karena Allah menginginkan kalian menjauhinya, sehingga kalian mendapat murka dan hukuman-Nya.”
Sebagaimana kit abaca, dalam khotbah itu Rasulullah kembali membicarakan dunia. Beliau menyepelekan dunia dan merendahkan nilainya agar manusia tidak disibukkan dengannya, sehingga melupakan akhirat yang merupakan tempat tinggal sebenarnya.
Allah berfirman,
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh – tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh – tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin…” (Al-Kahfi : 45)
Allah juga berfirman,
“…Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadiid : 20)
Dalam hadits riwayat Ibnu Umar diriwayatkan, “Rasulullah memegang pundakku lalu bersabda, ‘Jadilah di dunia kamu seperti seorang asing atau orang yang menyebrang jalan..’”
Ibnu Umar juga pernah berkata, “Jika pada sore hari, kamu jangan menunggu pagi. Jika pada waktu pagi , jangan menunggu sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebagai persiapan masa sakitmu, dan masa hidupmu untuk bekal kamu mati.” (HR. Bukhari)
Para ulama menjelaskan makna hadits di atas, “Maksudnya jangan kamu bersandar kepada dunia. Jangan jadikan dunia sebagai tempat tinggal. Jangan anggap kamu akan tinggal kekal di sana. Jangan mengikat diri dengan dunia kecuali seperti apa yang dibawa oleh seorang asing di tempat yang bukan negerinya. Jangan sibukkan dirimu dengan apa yang tidak menyibukkan seorang asing yang ingin pergi ke keluarganya.”
Inilah yang dimaksud dari khotbah Rasulullah di atas. Wallahu a’lam.
Seorang penyair berkata, “Tidak ada rumah yang akan ditinggali seseorang setelah ia mati, selain yang telah ia bangun sebelum ia mati. Jika ia membangunnya dengan kebaikan, ia tinggal dengan nyaman. Akan tetapi, jika ia membangunnya dengan kejahatan, celakalah ia. Jiwa menginginkan dunia padahal ia telah mengetahui bahwa kezuhudan adalah meninggalkan harta duniawi. Oleh karena itu, tanamlah landasan takwa selama kamu sehat dan ketahuilah bahwa setelah kamu mati kamu akan menemui ganjarannya.”

*Syekh Thaha Al-Afifi

KHOTBAH RASULULLAH MENGENAI SYIRIK

Abu Ali, seorang dari bani Kaahil, mengatakan bahwa Abu Musa Al-Asy’ary berkhotbah,”Wahai manusia, waspadailah syirik karena ia lebih samar daripada rayapan semut.”
Mendengar pernyataan itu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib mendekat. Mereka berkata,”Kamu harus menyebutkan dalilnya agar kamu bebas dari tanggung jawab oerkataan itu. Kalau tidak, kami akan menemui Umar, baik diizinkan ataupun tidak.”
“Aku akan tunjukkan dalilnya, “ kata Abu Musa, “Pada suatu hari Rasulullah berkhotbah di hadapan kami. Beliau bersabda, “Wahai manusia, waspadailah syirik karena syirik lebih samar daripada rayapan semut.”
Seseorang bertanya, “Bagaimana kami mewaspadainya kalau ia lebih samar daripada rayapan semut?”
Beliau menjawab, “Ucapkanlah,
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami meminta ampunan-Mu dari apa yang kami tidak ketahui.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
Sebagaimana kit abaca, dalam khotbah ini Rsulullah memperingatkan kita akan bahaya syirik. Beliau menjelaskan bahwa syirik lebih samar daripada rayapan semut. Hal ini berarti bahwa syirik memasuki amal manusia tanpa terasa sehingga manusia tidak begitu menghiraukannya.
Ibnu Abbas pernah berkata, “Termasuk syirik jika kamu berkata,’Demi hidupmu, Fulan!’ atau ‘Demi hidup bapakmu!’ atau ‘Jika bukan karena keledai si Fulan, pasti para pencuri telah mencuri harta kita malam tadi’ atau Aku berada di bawah perlindungan Allah dan di bawah perlindunganmu’ atau ‘Aku bertawakal kepada Allah dan kepadamu’ dan sebagainya”
Banyak hadits yang menyebutkan peringatan akan syirik. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Adh-Dhahhaak bin Qais bahwa Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya Allah berfirman, Aku adalah sekutu yang baik. Barangsiapa menyekutukan seorang sekutu dengan Aku, maka amalnya itu untuk sekutu-Ku itu. ‘Wahai manusia, ikhlaskan amal – amal kalian karena Allah tidak menerima amal manusia kecuali yang ditunaikan dengan ikhlas untuk-Nya. Jangan katakana ‘Ini adalah untuk Allah dan untuk kekerabatan’ karena jika kamu mengucapkan itu, akan menjadi untuk kekerabatan saja, sama sekali tidak untuk Allah. Dan jangan katakana ‘Ini adalah untuk Allah dan untuk kehormatan kalian’ karena jika kamu mengucapkan itu, menjadi untuk kehormatan kalian saja, sama sekali tidak untuk Allah. (HR. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi)
Abu Umamah mengatakan bahwa seorang pria dating menemui Rasulullah. Ia bertanya, “Seseorang berperang mencari pahala dan popularitas. Apa yang didapatnya?”
Beliau menjawab, “Ia tidak mendapat apa – apa.”
Lelaki itu mengulangi pertanyaannya yiga kali, sementara Rasulullah tetap menjawab, “Ia tidak mendapat apa – apa.”
Selanjutnya Rasulullah bersabda, “Allah hanya menerima amal yang ikhlas dan ditujukan untuk mencari ridha-Nya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Marilah kita menjadi orang – orang yang ikhlas dalam segala amal saleh kita agar amal – amal kita diterima di sisi Allah. Hendaknya semboyan kita adalah,
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya…” (Al-An’aam : 162-163)

KHOTBAH RASULULLAH TENTANG TOBAT DAN AMAL SALEH

Jabir bin Abdullah mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah berkhotbah di atas mimbar. Beliau bersabda, “Wahai manusia, bertobatlah kepada Tuhan kalian sebelum kalian mati. Segeralah beramal saleh sebelum kalian tidak dapat melakukannya. Sambunglah hubungan antara kalian dan Tuhan kalian dengan banyak mengingat-Nya dan banyak bersedekah, baik secara rahasia maupun terang – terangan. Niscaya kalian akan diberi rezeki, pahala, kemenangan, pujian, serta pertolongan.
Ketahuilah, bahwa Allah telah mewajibkan Jum’at atas kalian di tempatku berdiri ini, pada hari ini, pada bulan ini, pada tahun ini, hingga hari kiamat. Kewajiban yang pasti atas orang yang mampu melaksanakannya. Barangsiapa meninggalkannya sewaktu aku masih hidup atau setelah aku mati dengan mengingkari kewajibannya atau meremehkan haknya, sementara ia memiliki pemimpin, baik adil maupun lalim, maka aku berdoa semoga Allah tidak mengumpulkan persatuannya dan tidak memberkahinya. Shalatnya tidak diterima, puasanya tidak diterima, wudhunya tidak diterima, hajinya tidak diterima, sedekahnya tidak terima, zakatnya tidak diterima, dan kebaikannya tidak diterima hingga ia bertobat.
Barangsiapa bertobat, Allah akan mengampuninya. Ketahuilah, wanita hendaknya tidak mengimami seorang pria dalam shalat. Seorang Badui hendaknya tidak mengimami orang Muhajirin. Hendaknya orang durjana tidak mengimami orang mukmin, kecuali orang mukmin itu dipaksa oleh seorang pemimpin yang ia takuti pedang dan cambuknya.” (HR. Ibnu Maajah dan Al-Baihaqi)
Seperti yang telah kit abaca, dalam khotbah yang sarat makna di atas, Rasulullah menyuruh kita agar bertobat kepada Allah sebelum meninggal. Juga agar bersegera beramal saleh sebelum disibukkan oleh urusan – urusan duniawi yang kadang menjadi factor utama ketidakmampuan seseorang untuk mengerjakan amal –amal saleh itu secara sempurna. Selain itu, beliau menyuruh kita untuk menyambung hubungan antara kita dan Allah dengan banyak berzikir dan bersedekah, baik secara rahasia maupun terang – terangan, agar kita meraih hasil – hasil agung itu. Kita dikaruniai rezeki, pahala, kemenangan, pujian dan pertolongan.
Setelah itu, Rasulullah memfokuskan pada satu topic penting, yaitu masalah kewajiban Jum’at sambil memperingatkan orang yang tidak menunaikannya. Di sini saya ingin mengingatkan Anda beberapa hadits yang berkaitan dengan tema ini.
Ibnu Mas’ud berkata bahwa Nabi bersabda kepada sekelompok orang yang tidak menunaikan shalat Jum’at,
“Aku benar – benar ingin menyuruh seseorang untuk mengimami orang – orang shalat, lalu aku bakar rumah – rumah orang – orang yang tidak menunaikan shalat Jum’at.” (HR. Muslim dan Al-Haakim)
Dalam riwayat Abu Sa’id,
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia pergi shalat Jum’at. Dan barangsiapa meninggalkannya karena permainan atau perdagangan, maka Allah tidak membutuhkannya. Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (HR. Ath-Thabrani)
Abul Ja’ad adh-Dhamri, salah seorang sahabat, berkata bahwa Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa meninggalkan tiga jum’at dengan meremehkannya, Allah akan mematikan hatinya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tarmidzi, Ibnu Maajah, dan lain –lain)
Abu Qatadah berkata bahwa Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa meninggalkan Jum’at tiga kali tanpa ada darurat, niscaya Allah akan mematikan hatinya.” (HR. Ahmad dan Al-Haakim)

*Syekh Thaha Al-Afifi

KHOTBAH RASULULLAH UNTUK MENUNAIKAN HAK ORANG LAIN

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah berkhotbah. Beliau bersabda, “Allah telah memberi setiap orang yanh berhak haknya. Dia menetapkan hal – hal yang fardhu dan sunnah serta hudud. Dia menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Dia mensyariatkan agama, menjadikannya mudah, toleran, lapang, dan tidak menjadikannya sempit. Ketahuilah bahwa tidak ada imam bagi orang yang tidak memiliki amanah, tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji. Barangsiapa membatalkan dzimmah Allah, Dia akan mencarinya. Barangsiapa membatalkan dzimmahku, aku akan memusuhinya, dan barangsiapa aku musuhi, aku akan mengalahkannya. Barangsiapa yang membatalkan dzimmah-ku, ia tidak mendapat syafaatku, dan ia tidak meminum air telaga. (HR. Ath-Thabrani)
Sebagaimana kit abaca, dalam khotbah Rasulullah mengingatkan kita, mendorong kita sekaligus menakut – nakuti kita bahwa Allah telah memberi setiap orang setiap orang yang berhak haknya masing – masing. Artinya, Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an dan melalui lisan Nabi-Nya, hak-Nya atas hamba – hamba-Nya dalam bentuk penegasan-Nya (tauhid) dan taat kepada-Nya. Dia juga menjelaskan hak Rasul-Nya. Diikuti dan dipegan sunnah beliau,juga menjelaskan hak kedua orang tua, yaitu berbakti dan berbuat baik kepada mereka, menjelaskan hak pasangan suami – istri satu sama lain, hak pemimpin atas rakyatnya, hak rakyat atas pemimpin , dan seterusnya.
Selain itu, Rasulullah menjelaskan bahwa Allah telah menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Artinya, tidak ada yang halal selain yang dihalalkan Allah. Tidak ada yang haram selain yang diharamkan Allah. Hal itu agar ada upaya atau keinginan yang bulat untuk membedakan antara yang buruk dan yang baik.
Allah ta’ala berfirman,
“…dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…” (Al-A’raaf : 157)
Beliau juga menjelaskan bahwa Allah telah mensyariatkan agama. Dia menjadikannya mudah, toleran, dan lapang, tidak menjadikannya sempit, sebagai sebuah isyarat akan firman-Nya,
“…Allah menghendaki kemudahan nagimu, dan tiada menghendaki kesukaran bagimu…” (Al-Baqarah : 185)
Kemudian, pada bagian akhir khotbah ini, beliau menjelaskan konsekuensi berat yang dihadapi oleh orang – orang yang menyelewengkan amanah dan melanggar janji. Beliau bersabda, “Ketahuilah bahwa tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah. Tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji. Barangsiapa membatalkan dzimmah Allah, maka Dia akan mencarinya. Barangsiapa yang membatalkan dzimmah-ku, maka aku akan memusuhinya. Barangsiapa aku musuhi, maka aku akan mengalahkannya. Barngsiapa yang membatalkan dzimmah-ku, maka ia tidak akan mendapat syafaatku dan ia tidak meminum air telaga.”
Marilah kita senantiasa memperhatikan seluruh kandungan khitbah yang agung ini. Marilah kita menunaikan semua hak yang dijelaskannya. Marilah kita konsisten dengan batasan – batasan (hudud) syara serta menunaikan amanah kepada empunya. Kita hendaknya juga waspada terhadap pelanggaran janji. Dengan demikian, kita, insha Allah, termasuk orang – orang yang mendapat syafaat dan minum dari telaga Rasulullah di surga.

*Syekh Thaha Al-Afifi