rss

mutiarafr.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label aku cinta islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku cinta islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2011

Rasulullah Banyak Tertawa dan Tersenyum

Rasulullah adalah orang yang paling banyak tersenyum dan tertawa di hadapan para sahabat beliau. Bahkan, beliau menjadikan senyum sebagai ibadah yang digunakan untuk menyembah Allah sebagaimana sabdanya,
“ Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah “
Orang yang menelurusuri kehidupan Nabi Muhammad akan mendapati bahwa beliau terkadang bercanda dan berhumor. Hal itu tidak aneh mengingat beliau adalah sosok yang menjadi rahmat yang dianugerahkan Allah untuk manusia. Allah berfirman tentang beliau,
“ Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu “ (Ali Imran : 159)
Beliau diutus sebagai rahmat untuk sekalian alam. Dan, manusia yang paling berhak mendapatkan rahmat ini adalah keluarga beliau, kerabat beliau, orang – orang yang dikasihi beliau dan para sahabat beliau. Penampilan beliau yang suci selalu dihiasi senyuman yang benderang dan mensugesti. Jika orang bertemu dengan beliau, maka mereka langsung terpikat hatinya. Jiwa mereka pun segera cenderung terpikat secara total kepada beliau, dan ruh mereka pun segera tertawan dengan kepribadian beliau.
Beliau tersenyum seperti embun yang tampak bersinar di wajah yang lebih cemerlang dari matahari, kening yang lebih bercahaya dibandingkan bulan purnama, mulut yang lebih suci dari wewangian, akhlak yang lembut dari bunga, dan cinta yang lebih halus dari angin semilir. Beliau hanya mengucapkan kebenaran. Sehingga, humor beliau bagi ruh para sahabat terasa lebih lembut dari butir – butir air di hati, dan lebih halus dari tangan seorang ayah yang penyayang di kepala anaknya yang masih bayi.
Beliau berhumor kepada mereka sehingga ruh mereka pun menjadi semangat, dada mereka menjadi lapang, dan wajah mereka menjadi ceria. Sehingga,mereka sama sekali tidak menginginkan dunia seluruhnya dalam salah satu majelis beliau. Dan, mereka pun sama sekali tidak mengharapkan harta yang berlimpah ruah dalam satu kata – kata beliau yang lebih tenang dan bercahaya dari semua itu.
Jarir bin Abdullah al-Bujali berkata, “Setiap kali saya menjumpai Nabi Muhammad pasti beliau tersenyum.” Jarir berbangga dengan anugerah ini serta mengumumkan kedermawanan beliau. Dan senyum yang cemerlang, hangat, dan tulus ini lebih berharga bagi Jarir dibandingkan semua ingatan dan lebih tinggi dibandingkan seluruh harapan.
Ketika beliau senyum di hadapannya, maka hal itu sudah cukup baginya. Tindakan beliau itu memenuhi ruhnya dengan kebaikan, kasih sayang, dan kelembutan. Jangan sangka hal itu adalah sesuatu yang biasa, atau ia adalah sesuatu yang mudah sekali, karena Anda tidak mengikuti kejadian itu juga tidak merasakan masalahnya.
Rasulullah dalam tawa dan canda beliau bersikap seimbang antara orang yang kering, muram dan cemberut penampilannya, dengan orang yang banyak tertawa, berlebihan dalam humor dan hobi berkelakar. Nabi Muhammad pernah tertawa dalam beberapa kesempatan hingga geraham beliau terlihat, namun beliau tidak tenggelam hinga dalam tawa hingga tubuh beliau bergerak – gerak, atau condong atau hingga bagian tubuh atas beliau terlihat.

Selasa, 01 Maret 2011

LISAN

Assalamualaikum ^_^
Bismillahirahmaanirohim…
Allahummashalli wa salim ‘ala Rasulillah….
Artikel ini saya kutip dari buku “Lisanmu Adalah Surgamu”  yang dikarang oleh Sufyan Bin Fuad Baswedan.
Semoga kita semua dapat mengambil sedikit ilmu.
Selamat membaca ^_^

Lisan adalah tolok ukur baik buruknya keislaman seseorang. Rasulullah Salallahu alaihi wassalam bersabda,
“Muslim sejati ialah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya”
(HR. Bukhari no 10 dari Abdullah bin Amru)
Dialah satu dari tiga sifat laki – laki. Imam Hasan Al – Bashri mengatakan, “Lelaki itu ada tiga, lelaki karena dirinya, lelaki karena hartanya dan lelaki karena lisannya.”
(Adab al-Mujalasah hal 47, tulisa al-Hafizh Ibnu Abdil Barr.)
Lisan memiliki beberapa sifat terpuji, di antaranya sebagai alat untuk menerangkan memberi syafaat saat dibutuhkan, penasihat yang mencegah kejahatan, penghibur hati saat berduka dan penenang saat emosi membara.
Dialah organ terkecil yang mampu mengangkat pemiliknya ke Jannah, atau menjerumuskannya ke dasar neraka. Rasulullah salallahu alahi wassalam bersabda yang artinya, “Seorang hamba kadang mengucapkan sepatah kata yang diridhai Allah sedang ia tidak memerhatikannya, namun karenanya Allah mengangkatnya beberapa derajat, dan kadang ia mengucapkan sepatah kata yang dimurkai Allah sedang ia tidak memerhatikannya, namun karenanya terjerumus dalam jahannam”
(HR. Bukhari no. 6478)
Oleh karena itu tak ada pilihan lain bagi kita kecuali satu dari dua hal, diam, atau bicara yang baik. Dengan diam, Anda akan meraih simpati dan tidak menyakiti. Anda akan memiliki wibawa dan tak perlu repot minta maaf. Sebab itu, tahanlah lisan Anda kecuali saat menjelaskan kebenaran atau menolak kebatilan. Tahanlah lisan Anda dari bicara yang tak perlu, niscaya Anda akan selamat.
Diam, artinya menahan lisan dari kejahatan atau ucapan tak berguna. Diam seperti inilah yang bernilai ibadah, bukan diam dari perkataan yang baik seperti dzikir, amar ma’ruf nahi munkar dan semisalnya, karena yang demikian ini tidak mengandung kebaikan sama sekali.
Allahualam bissawab…
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Keajaiban Istighfar

·         Ingin pikiran tenang, hati lapang, jiwa tentram dan hidup nikmat? Perbanyaklah istighfar! Allah berfirman,
“ Minta ampunlah kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberimu kenikmatan terus-menerus…” (QS. Hud : 3)
·         Ingin badan lebih kuat, sehat dan bebas dari segala penyakit? Perbanyaklah istighfar! Allah berfirman,
“Mohon ampunlah kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu..” (QS. Hud : 52)
·         Ingin terhindar dari bencana, selamat dari musibah dan terjaga dari fitnah? Perbanyaklah istighfar! Allah berfirman,
“… Dan Allah tidak mengazab mereka, selagi mereka meminta ampun” (QS. Al-Anfal : 33)
·         Ingin curahan hujan, keturunan shalih, dan rezeki lancer? Perbanyaklah istighfar! Allah berfirman,
“…Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak – anakmu, dan menciptakan untukmu kebun – kebun dan sungai – sungai” (QS. Nuh : 10-12)
·         Ingin dosa diampuni, pahala bertambah dan derajat terangkat? Perbanyaklah istighfar! Allah berfirman,
“Katakan, “Bebaskanlah kami dari dosa” , niscaya Kami ampuni kesalahan – kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada mereka yang berbuat baik” (QS Al-Baqarah : 58)

Ciri – cirri perkataan yang baik

Þ     Kalimatnya lembut, tidak mengganggu perasaan atau melukai hati
Þ     Lafazh dan maknanya indah
Þ     Telinga rindu untuk mendengarnya dan hati bahagia karenanya
Þ     Hasilnya baik, tujuannya membangun, dan manfaatnya jelas
Allah berfirman,
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizing Rabbnya. Allah membuat perumpamaan – perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat” (QS. Ibrahim : 24 – 25)

Berkatalah Yang Baik

Saat diam mulai membosankan, atau situasi dan kondisi mengharuskan untuk bicara, maka berkata yang baik adalah pilihan Anda satu – satunya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman yang artinya, “…dan katakanlan perkataan yang baik kepada manusia…” (QS. Al-Baqarah : 83) Lihatlah ungkapan yang demikian umum dalam ayat tersebut… “kepada manusia”. Ini menunjukkan bahwa orang kafir  pun berhak mendengar kata – kata yang baik dari kita. Bukan hanya itu, bahkan saat berdebat dengannya kita diperintahkan untuk menggunakan kata – kata yang terbaik, sebagaimana firman-Nya,
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik..” (QS. An-Nahl : 125)
Berangkat dari sini, jelaslah bahwa seorang mukmin lebih berhak untuk mendengar kata – kata yang baik dari sesamanya, sebagaiman firman Allah, “Suruhlah hamba – hambaKu agar mereka mengatakan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra : 53)
Kemudian Allah menyebutkan bahwa perkataan yang baik tadi akan melambung demikian tinggi hingga berada di sisi-Nya, “Kepada-Nya lah naik setiap perkataan yang baik dan amal shalih pun diangkat-Nya…” (QS. Fathir : 10)
Kata – kata yang baik adalah perisai paling mudah dan murah dari siksa Neraka. Salah seorang sahabat yang bernama ‘Adi bin Hatim mengatakan, Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut – nyebut neraka sambil memalingkan wajahnya. Beliau mengatakan, “Jagalah dirimu dari Neraka,” kemudian memalingkan wajahnya lagi. Beliau melakukannya tiga kali hingga kami mengira bahwa beliau sedang memandang ke Neraka ! Kemudian Beliau bersabda,
“Jagalah dirimu dari Neraka walau dengan separuh kurma, Jika tidak ada, maka dangan kata – kata yang baik.” (HR. bukhari no 6174 dan Musli no. 1016)
Dengan berkata baik kepada orang lain, Anda telah bersedekah tanpa keluar sepeserpun. Bahkan boleh jadi Anda mendapat ridha Allah  sejak saat itu hingga hari kiamat tanpa Anda sadari! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya,”…perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari no.2827 dan Muslim no 1009 dari Abu Hurairah)
Beliau juga bersabda “Seseorang mungkin mengatakan sesuatu yang diridhai Allah tanpa dikira bahwa hasilnya sampai seperti itu, namun karenanya Allah menetapkan keridhaan-Nya bagi orang itu hingga hari kiamat ..” (HR. Tarmidzi no 2319, Ibnu Majah no. 3969, Ahmad no 15852)
Tahukah Anda , ridha Allah berarti di atas segalanya, bahkan ia lebih mulia dari Jannah sekalipun ! Sebab orang yang mendapatkan ridha Allah berarti tidak akan singgah di neraka sekalipun, akan tetapi langsung menuju Jannah. Bahkan lebih dari itu, ia diizinkan untuk menatap wajah Allah di sana, dan inilah puncak dari seluruh kenikmatan Jannah.
Ridha Allah lebih mulia dari Jnnah karena ia adalah salah satu sifat Allah, sedangkan Jannah adalah makhluk-Nya. Dan jelas bahwa sifat-Nya adalah lebih mulia dari makhluk apapun. Selain itu, ridha Allah adalah syarat utama sesorang diizinkan masuk Jannah.
Jadi, tunggu apa lagi? Mulailah dari sekarang, siapa tahu sampai sekarang kata – kata tersebut belum terucap? Karenanya, berusahalah semampunya dan ingatlah selalu untuk mengatakannya, semoga Anda mendapatkannya suatu ketika.

“Lisanmu Adalah Surgamu”
Sufyan Bin Fuad Baswedan